Minut, Maesaanwayanews.com -Perkelahian antar kelompok yang terjadi yang terjadi di Desa Tatelu Jaga I, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), pada Kamis (27/11/25), sekira pukul 23:00 Wita, yang diduga mengakibatkan korban tembak di paha kanan akhirnya berakhir damai.
“Saat kami memeriksa kedua belah pihak, mereka mengatakan ingin berdamai. Kesepakatan damai pun dilakukan diantara mereka dan disaksikan beberapa pihak,” beber Kapolsek Dimembe Ipda Steven Rumapea, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu, (04/12/2025).
“Himbauan dari kami, jika masyarakat dari luar sana membawa nama dari daerah, suku ataupun dari mana, kami tegaskan bahwa ini hanya masalah oknum atau personalnya yang terjadi kesalapahaman sehingga terjadi pertikaian dan ahirnya kedua bela pihak sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan, beramai dan tidak lagi memperpanjang masalah,” jelas Rumapea.
Kapolsek pun menjelaskan, adapun kronologi kejadian tersebut bermula dari kesalahpahaman kecil di jalan, namun berkembang menjadi perkelahian yang melibatkan sejumlah orang serta penggunaan senjata tajam dan softgun.
Peristiwa bermula saat empat pemuda masing-masing Krishna Wuntu, Miki Poluan, Kevin Poluan, dan Rivel Kawuwung pulang dari tempat bilyard di Desa Tatelu Jaga IV. Dalam perjalanan menuju arah tambang, sepeda motor mereka mengalami putus vanbelt sehingga harus dituntun sambil mesinnya tetap menyala dan menimbulkan suara bising.
Saat melintas di depan sebuah rumah di kompleks Pasar Tatelu, suara bising motor itu memancing teguran dari beberapa pemuda lain yakni Klivert Kuntak, Niki, Etoy, Angga, Gio, Mervin, Nesta, dan Kriven. Teguran “jangan ribut” dibalas dengan kata “kiapa” dari salah satu kubu, yang kemudian memicu adu mulut.
Kedua kelompok sempat berhadapan dan suasana semakin panas. Keributan berlanjut sampai ke depan Pos Penjagaan Perusahaan MSM, sekitar 100 meter dari lokasi awal. Di sana terjadi aksi saling lempar batu, namun situasi sempat mereda ketika kedua kubu terlibat percakapan untuk menenangkan keadaan.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil pick-up Grandmax datang dari arah tambang membawa sejumlah orang tak dikenal yang memegang barang tajam seperti cakram, tombak, dan pisau. Kedatangan kelompok ini kembali memicu keributan dan pengejaran terhadap kelompok Klivert Kuntak hingga ke sebuah lorong tidak jauh dari lokasi.
Di saat bersamaan, Charly dan Vecly alias Filly yang kebetulan melintas menjadi sasaran intimidasi dari kelompok yang membawa senjata tajam. Charly berhasil melarikan diri ke pos keamanan MSM, sementara Filly sempat dikejar sebelum diamankan oleh anggota Brimob.
Namun ketika hendak pulang, Filly berpapasan dengan Rado Mongilong. Keduanya bertabrakan badan, dan Rado kemudian mencabut pisau serta mencoba menyerang. Filly yang membawa airsoft gun di pinggang spontan menembakkan dua kali ke udara dan satu kali ke arah kaki Rado. Tembakan mengenai bagian paha kanan dalam korban.
Selain itu, seorang pemuda lain bernama Putra Nayoan turut mengalami luka akibat lemparan batu dalam keributan tersebut dan melaporkan kejadian ke pihak kepolisian.
Korban penembakan, Rado Mongilong, sempat menjalani perawatan selama enam hari di Rumah Sakit Walanda Maramis akibat luka yang dialamin.






