Hutan Penyangga jadi Areal Produksi Perusahaan Tambang PT JRBM, Desa Bakan Bakal Hilang, Aktivitas Warga Terancam

Bolmong, Maesaanwayanews.com – Masalah pertambangan cenderung menjadi buah bibir bagi masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar tambang.

Seperti yang terjadi di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Aktivitas PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), diduga kuat mengancam kehidupan warga serta masa depan desa tersebut.

Pasca terjadi banjir yang melanda Desa Bakan Selasa, 12 Agustus 2025 beberapa waktu lalu. Material bebatuan bercampur lumpur terjun bebas mengalir menghantam lahan perkebunan dan persawahan warga. Adapun penyebab banjir material bebatuan bercampur lumpur yang menghantam Desa Bakan.

Rudi Rumengan dan Taufik Pontoh, perwakilan PT JRBM, saat dilokasi banjir kepada Kapolres Kotamobagu AKBP Irwanto mengatakan, ada tiga (3) tanggul PT JRBM jebol.

Kejadian tanggul jebol mematik aktifis lingkungan bertanya-tanya akan tiga tanggul milik perusahaan tambang terbesar di Sulawesi Utara PT JRBM jebol, dan apakah PT JRBM memiliki hutan penyangga sebagai benteng pelindung warga desa Bakan.

Sumber resmi dengan redaksi media menuturkan, dahulu wilayah tersebut ada hutan penyangga namun saat ini sudah tidak ada lagi hutan penyangga.
“Hutan penyangga dulu masih ada, tapi saat ini hutan penyangga di wilayah desa bakan sudah beralih fungsi menjadi areal produksi perusahaan,” beber narasumber yang meminta namanya tidak di publikasikan. Rabu (27/08/2025).

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan, hutan penyangga itu menjadi benteng terakhir desa bakan dari ancaman banjir dan tanah langsor. Saat ini sudah tidak ada lagi benteng keselamatan desa Bakan, benteng terakhir (Hutan penyangga) sudah berubah menjadi areal produksi perusahaan.
“Anda bisa bayangkan apa yang terjadi kedepan bila hutan penyangga sudah sejajar dengan tanah perkampungan desa bakan,?  Sementara, perusahaan diatas puncak gunung terus mengeruk material. Jika terjadi tanggul jebol atau tanah longsor, desa Bakan akan porak poranda dan bakal hilang akibat tertimbun bebatuan dan lumpur. Itu tak bisa dielakkan, karena hutan penyangga yang menjadi benteng warga desa sudah tidak ada,” jelasnya, sambil membayangkan Desa Bakan hilang karena tertimbun material dan lumpur.

Dirinya juga menambahkan, aktivitas perusahaan sudah dekat dengan penduduk masyarakat desa Bakan, sistem blasting (peledakan memecah batuan) perusahaan itu terdengar dan dirasakan getarannya sampai ke rumah warga desa.
“Pengalihan hutan penyangga menjadi areal produksi perusahaan penting untuk ditelusuri, kenapa hutan penyangga bisa berubah menjadi areal produksi?. Jika tak ada hutan Penyangga Desa Bakan terancam hilang. Disisi lain, jika memang itu sudah menjadi areal Produksi, tentu perusahaan PT JRBM wajib mengelola-nya. Sementara hutan penyangga itu benteng terakhir pelindung warga desa bakan,” pungkasnya.

Hingga berita ini di publish Redaksi media masih terus berupaya mendapat keterangan resmi dari PT JRBM. Terkait apakah hutan penyangga benar sudah berubah menjadi areal produksi.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *