Manado, Maesaanwayanews.com – Sosok Nancy Angela Hendrik, aktivis yang terkenal pemberani dan lantang menyuarakan kepentingan banyak orang, terlihat datang menemui, sekaligus bernegosiasi dengan ribuan pengunjuk rasa yang didominasi oleh para Mahasiswa di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Senin (01/09/25).
Dari pantauan media ini, Nancy Angela Hendrik turun langsung berhadapan dengan para mahasiswa.
“Kami berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang mengeluarkan aspirasinya. Seperti yang sudah di himbau, dan kami juga sudah menghimbau bahwa, kami sebagai warga Indonesia atau torang semua sebagai warga keluarga Indonesia berhak mengeluarkan aspirasi dengan tertib dan damai,” beber Nancy Angela Hendrik, saat diwawancarai usai bernegosiasi dengan para mahasiswa.
Lebih lanjut dirinya mengatakan kepada mahasiswa yang melakukan aksi demo, agar memberikan aspirasi sesuai dengan intelektual seorang mahasiswa.
“Sampaika aspirasi dengan damai, sesuai dengan cara intelektual mahasiswa. Kita bisa berdiskusi, kita bisa tampung aspirasi. Dan kehadiran saya pada saat tadi, dengan saya lihat atau saya memonitor memang mulai tidak kondusif. Ada benturan-benturan kecil, tetapi begitu saya datang saya masuk berdialog dengan masa, berdialog dengan mahasiswa, dan saya mencoba menegosiasi dengan mahasiswa agar permintaan mereka yang wajar-wajar saya mungkin mungkin bisa saya kondisikan tetapi dialog itu tidak ketemu titik temunya,” katanya.
Lebih lanjut, dirinya menceritakan apa yang disampaikannya kepada para pendemo. “Dari pemerintah daerah sudah memberikan kesempatan untuk perwakilan 10, bahkan disampaikan sampai diberikan 20 perwakilan, untuk masuk bertemu dengan para anggota dewan tadi. Sudah ada ketua dewan, anggota dewan, yang sudah berhadapan dengan masa. Saya juga sudah bicara, ternyata negosiasi tadi tidak ketemu titik terang, bahwa masa mau masuk semua ke kantor DPRD. Mohon maaf, kita semua sebagai penjaga tanah Minahasa, mengantisipasi kami sudah memberikan kesempatan untuk masuk 15 sampai 20 orang ternyata tidak mau. Bahkan para anggota dewan, ketua dewan pun sudah hadir mereka maunya masuk ke dalam seluruh masa. Mohon maaf saya tidak bisa memberikan izin tersebut, dari aparatur negara juga tidak bisa menginginkan. Dari pemerintah daerah juga tidak mengizinkan. Kenapa, kami menjaga mengantisipasi jangan lagi ada terjadi seperti di provinsi-provinsi lain, kalau saya bicara tadi saya tidak bisa tahu yang mana mahasiswa yang mana penyusup, dan yang mana provokator,” jelasnya.
“Lebih baik saya sudah mencoba berusaha berdiskusi walaupun ada sempat gesekan tadi dengan mereka, ya saya harus hadapi.
Karena tidak ketemu titik terang adik-adik saya menghimbau tolong kalian mengeluarkan aspirasi kalian ini dengan elegan,” tambahnya.
Tidak lupa juga, dirinya menghimbau kepada seluruh mahasiswa agar jangan mau disusupi, jangan mau diprovokasi orang.
“Kita sudah bangun Sulut ini bersama-sama, masak orang mau kasih rusak. Ingat pahlawan-pahlawan yang telah membangun Sulut. Cukup dengan provinsi-provinsi lain yang sudah keos, dan torang sebagai penjaga tanah toar Lumimuut, terutama saya tidak akan membiarkan walaupun sampai dengan nyawa saya. Saya akan mempertahankan, tidak jangan sampai ada keos di sini. Karena kalau saya lihat tadi, saya menilai mahasiswa ini sudah bukan mahasiswa, ini sudah berbagai macam elemen yang memprovokasi,” tegasnya.
Tidak lupa dirinya berterima kasih kepada aparat kepolisian yang sudah melakukan tugasnya dengan baik.
“Saya sudah melakukan semua untuk bernegosiasi, tetapi mereka memaksa. Ya saya kembalikan kepada pihak yang berwenang, yang tadinya saya sudah sampaikan kepada adik-adik tolong mengerti, jangan sampai diambil tindakan kekerasan. Kasihan pak polisi nanti disalahin lagi, karena kalian yang tidak mau mengerti. Kami sudah memberikan kesempatan 20 orang untuk masuk, kalian tidak mau masuk, maunya semua nggota, tidak mungkin dong, saya juga bersama ormas-ormas adat di Sulut menjaga jangan lagi menyalahkan pak polisi, kasihan pak polisi. Hanya menjaga keamanan, sebagai penjaga tanah toar lumimuut, tidak akan membiarkan Sulut hancur, seperti provinsi lain,” pungkasnya.












